Merebaknya kasus pertemuan Ketua DPR bersama pengusaha Minyak Muhammad Riza Chalid dan Ma’ruf Syamsuddin Presdir PT Freeport Indonesia sepertinya membuat para politikus senanyan harus bekerja keras untuk menyelematkan Setna Novanto dari sanksi etik yang akan di ambil oleh MKD. Hal itu bisa kita lihat dari beberapa hal

1. Sebelum MKD menggelar sidang pekan lalu sudah terlihat ada permainan yang dimainkan oleh politikus partai politik. Saat itu, sejumlah fraksi tiba-tiba saja mengganti anggota di MKD. Dari 17 orang anggota, 8 diantaranya diganti dan pergantian terbanyak dilakukan oleh partai Golkar sebanyak 3 orang bahkan wakik ketua MKD Hardisoesilo pun diganti oleh Kahar Muzakir yang dikenal sebagai orang yang paling dekat dengan Setya Novanto.

2. Sebelum masuk persidangan, diruang kerja Setya Novanto, sejumlah anggota Fraksi Golkar seperti Roem Kono dan Yopi Kardinal tengah mendiskusikan persiapan kehadiran Novamto, termasuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang akan diajukan oleh majelis hakim MKD bahkan mereka terlihat berdoa bersama.

3. Pada saat sidang yang menghadirkan Setya Novanto, MKD seharusnya memulai sidang pada pukul 09.00 namun molor hingga pukul 12.50 dengan alasan adanya aktivitas lain. Padahal sidang tersebut ditunda karena permintaan Setya Novanto sendiri. Bukan karena anggota MKD punya aktivitas lain. Itu membuktikan bahwa jadwal sidang pun bisa di intervensi oleh Novanto.

4. Masuknya Setya Novanto ke ruang sidang hampir tidak diketahui oleh wartawan bahkan pihak keamanan DPR yang harusnya mengawal justru terkecoh dari tempat penjagaan yang seharusnya dilewati oleh Novanto. Akhirnya sidang yang seharusnya terlebih dahulu di buka untuk publik sebelum diputuskan tertutup malah ternyata ditutup sejak awal.

5. Tertutupnya sidang Setya Novanto dikarena mayoritas anggota MKD menginginkan sidang tersebut ditutup. Sejak awal, dari 17 anggota MKD hanya 5 orang anggota MKD yang bersikeras meminta sidang terbuka. Mereka adalah Akbar Faisal (Nasdem), Sarifuddin Sudding (Hanura), Guntur Sasono (Demokrat), Darizal Basir (Demokrat), Julimat Girsang (PDIP). Meskipun terjadi perdebatan hebat soal terbuka dan tertutup, namun Kahar Muzakir yang memimpin sidang tersebut memilih untuk sidang tersebut tertutup dengan alasan menghormati permintaan Novanto. Nampak sekali justru partai-partai yabg tergabung dalam koalisi Merah Putih yang dipimpin oleh Golkar sangat memainkan peran dalam sidang ini.

6. Dalam sidang tersebut dipimpin oleh Kahar Muzakir yang berada pada satu partai dengan Novanto dan dikenal sebagai orang terdekat dari Novanto. Konsekuensi dari sidang tersebut dipimpin oleh Kahar Muzakir. Pertama, persidangan tersebut akhirnya hanya memakan waktu yang cukup singkat, hanya sekitar 3 jam 15 menit, sangat berbeda dengan sidang Sudirman Said yang memakan waktu 8 jam begitupun dan Ma’ruf Syamsuddin sekitar 11 jam. Padahal sidang tersebut ada karena MKD ingin mengadili Etika Novanto bukan etika Sudirman atau Ma’ruf. Kedua, Kahar Muzakir memberikan kebebasan kepada Novanto untuk tidak menjawab pertanyaan anggota MKD yang berkaitan dengan rekaman dengan alasan rekaman tersebut adalah ilegal padahal rekaman tersebut adalah alat bukti yang sudah disepakati MKD sebelumnya.

Imaduddin Al Faruq

Muslim Analyze

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here