Pembunuhan sadis yang terjadi Jalan Pulomas Utara, Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur menarik perhatian publik. Dalam peristiwa itu, enam orang meninggal dunia dan lima lainnya terluka. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan mengatakan, setelah mendapat laporan dari warga, polisi menemukan 11 korban yang disekap di kamar mandi ukuran 2×1 meter. Mereka dikunci dari luar. Para korban meninggal diduga akibat kehabisan oksigen.

Terlepas dari apa motif pembunuhan di Pulomas tersebut namun pembunuhan yg terjadi dijakarta ini kembali membuktikan Jakarta menjadi kota yg tidak aman. Hal itu sekaligus membuktikan kembali ungkapan sebuah survei dari Economist Intelligence Unit yang menempatkan Jakarta sebagai kota paling tidak aman di dunia.

Survei yang meneliti 50 kota di dunia itu disponsori oleh NEC. Survei memasukkan 40 indikator kuantitatif dan kualitatif. Ke-40 indikator tersebut terbagi dalam empat kategori tematik yakni keamanan digital, jaminan kesehatan, infrastruktur, dan personal. Setiap kategori terbagi lagi ke dalam tiga hingga delapan subindikator, seperti langkah kebijakan dan frekuensi kecelakaan lalu lintas.

Kriminolog Mintarsih A. Latief mengatakan, berbagai aksi kriminal di Ibukota akibat dampak ekonomi dan hukum yang amburadul masih menjadi tontonan publik. “Trennya (kriminal) akan meningkat. Masalah keuangan masyarakat faktor utama, ekonomi dan hukum di negeri kita ini belum ada tanda-tanda perbaikan,” ujar Mintarsih kepada Harian Terbit di Jakarta.

Jadi, jika kriminalitas sangat erat kaitannya dengan tingkat kesejahteraan dan hukum yang amburadul adalah hal yang wajar. Jakarta kini menjadi cermin kemiskinan Indonesia, bukan hanya pada sisi kuantitas tetapi juga kualitas kemiskinan itupun meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyatakan jumlah penduduk miskin di Jakarta mengalami kenaikan 0,14 poin. “Jumlah penduduk miskin pada bulan September 2015 mencapai 368.670 orang atau 3,61 persen dari total jumlah penduduk di DKI Jakarta, maka pada bulan Maret 2016, jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 384.300 orang atau 3,75 persen. Artinya ada peningkatan sebesar 15.630 orang atau meningkat 0,14 poin,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial BPS DKI Jakarta Sri Santo Budi Muliatinah dalam siaran pers di Jakarta, Senin.

Begitupun dengan hukum positifnya, hukum di negeri ini tidak memberikan efek jera pada pelaku kriminal. Justru malah tingkat kriminalitasnya juga meningkat baik dari sisi kuantitas dan kualitas. Meskipun terjadi penurunan namun dari sisi waktu aksi kriminalitas sangat cepat terjadi ditahun 2015 saja berdasarkan penelitian Polda Metro Jaya, jika diwaktukan aksi kriminalitas terjadi setiap 12 menit 26 detik sepanjang 2015. Bahkan di perkirakan ditahun 2016 akan meningkat lebih cepat.

Oleh karenanya, harusnya negeri ini berbenah diri dan memikirkan kembali sistem kapitalisme sekuler yabg di terapkan hari ini. Sistem ini justru membuat kesenjangan terbuka lebar. Tidak hanya itu hukum sekuler juga membuktikan meningkatnya kriminalitas di Jakarta adalah buah dari hukum yang tidak membuat efek jera pada pelaku kriminal, dan hukum positif ini juga tidak mempunyai efek untuk mencegah orang lain untuk melakukan kejahatan.

Imaduddin Al Faruq

Muslim Analyze Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here